Bulan: Januari 2014

Haruskah Aku

Posted on

Resahku memantapkan hati
Namun kau tak jua peduli
Inginku palingkan muka
Tapi hatiku tak rela

Haruskahku berhenti berharap?
Berhenti dari semua yang kau ucap?
Haruskah aku?
Tolong jawab aku!

Haruskahku berhenti berharap?
Atas semua yang kau ucap?

Yogyakarta, 27 Januari 2014

Iklan

Aku dan Pintamu

Posted on

Aku kembali berjalan
Menyusuri lajur keegoisan
Seperti permintaanmu, pujaanku

Lelah kaki ini melangkah bersamamu saat ini
Lalu kau pun malah menyuruhku
Menyuruhku kembali ke jalur keegoisanku

Kulihat jalan itu belum terbuka
Dan kurasa lelahku mencoba membukanya
Kubalikkan badan ku langkahkan kaki
Kembali menapaki lajur keegoisanku

Kuharap setelah ini kau tak menyesal
Karena aku mulai belajar untuk tidak peduli
Seperti pintamu, wahai pujaanku

Kembali kuatur kepala dan kakiku menapaki lajur keegoisanku
Sekali melangkah takkan kuurungkan lagi
Cukup sudah tundukan kepalaku
Cukup sudah uluran tanganku
Kini ku kembali ke lajur keegoisanku

Yogyakarta, 25 Januari 2014

Quote of The Day #12

Posted on

“Impian awal dari cita-cita, perjuangkan seoptimal usahamu, setelah itu biarkan DIA yang menunjukkan jalan yang benar untuk cita-citamu”

Kutu, 25 Januari 2014

Janji Denganku

Posted on

Akhirnya malam datang
Menggantikan senja ini
Aku masih terdiam di sini
Menunggu engkau datang

Engkau entah dimana
Lupakah engkau dengan janji kita?
Janji di bawah sinar bulan
Janji menemaniku menjemput fajar
Lupakah engkau, pujaanku?

Aku masih terdiam di sini menunggumu
Hingga angin malam serasa menusuk tulang
Dan engkau tak jua datang

Lupakah engkau?
Lupakah engkau dengan janji kita duhai pujaanku?

Yogyakarta, 24 Januari 2014

Aku dan Diam

Posted on

Aku dan diam
Diam dalam hening
Hening yang tak biasa

Kemanakah ceria?
Adakah dia di sana bersamamu?
Wahai pujaan hatiku

Aku dan diam
Diam dalam kata
Tak lagi bisa kuberkata-kata
Terasa sulit merangkai huruf menjadi kata

Wahai pujaan hatiku, apakah kau tahu
Apakah kau tahu apa jawabnya?
Apa jawab dari diamku?

Aku dan diam
Diam beribu basa
Tanpa suara dalam pekat malam

Aku dan diam
Diam tanpa tahu jawabnya
Jawaban yang belum bisa kutemukan
Dan hanya ada aku dan diam

“Sambal ‘Pedho'” spesial resep mamake

Posted on Updated on

image

Anda penggemar pedas seperti saya? Resep berikut ini patut Anda coba, kalau memang Anda penggemar makanan pedas seperti saya. Yup, kali ini saya mau menulis resep sambal ‘Pedho’, meski dibilang sambal, sambal ini ndak pake di’uleg’ atau dihaluskan, semua bumbu cukup diiris. Resep ini asli dari Mamake (ibu saya).
Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat resep ini cukup sederhana dan mudah didapat di pasar terdekat, warung  sayur, maupun tukang sayur. Bahan yang wajib ada tentu saja cabai, cabai beneran ya, jangan cabe-cabean (#ehh).
Oke ini bahan lengkapnya:
-> ikan ‘pedho’ atau ikan asin yang bentuknya utuh 1ons
-> cabai hijau 15 buah
-> cabai rawit 10 buah
-> bawang merah 5 siung
-> bawang putih 3 siung
-> daun jeruk 2 lembar
-> daun salam 2 lembar
-> lengkuas tebalnya sekitar 5-10mm
-> temu kunci 3 ruas jari

*Cara buatnya:
-Pertama-tama potong cabai sepanjang 1 cm
-Iris bawang merah, bawang putih, temu kunci, dan daun jeruk tipis-tipis
-Potong ikan asin kira2 1-2cm
-setelah semua siap, panaskan 2-3 sendok makan minyak goreng, lalu tumis semua bumbu, agak layu, masukkan ikan asin. Tumis hingga agak kering (tapi jangan sampai gosong), angkat dan siap dihidangkan.
Sambal ini cocok dimakan hanya dengan nasi saja atau sebagai pendamping sayur ‘brambang kunci’.  Demikian resep pertama yang saya tulis dari ajaran Mamake, semoga bermanfaat, dan selamat mencoba.

Yogyakarta, 22 Januari 2014

Quote of The Day #11

Posted on Updated on

“Selalu berpikir positif membantu kita dalam menghadapi hal-hal tidak terduga dalam hidup ini”

Yogyakarta, 20 Januari 2014