Sebuah Review “How to Train Your Dragon 1&2” by DreamWorks

Posted on Updated on

how-to-train-your-dragon-poster-1

How to Train Your Dragon” sebuah film animasi yang sarat akan pesan moral. Pada film yang pertama, “How to Train Your Dragon 1” yang diputar pertama kali tahun 2010, (dan baru kutonton di tahun 2014) mengajarkanku tentang bagaimana menjadi orang yang berani dan percaya dengan hati nurani. Bercerita tentang seorang pemuda bernama Hiccup yang tinggal di desa Viking bernama Berk yang terletak di tempat yang tak biasa (ekstrem), yang menurut Ayahnya Stoick (Kepala Desa) adalah seorang yang lemah. Tapi Hiccup mampu menunjukkan bahwa dia berhati kuat dan cerdas.

Pada bagian awal film ini, desa Berk sedang diserang oleh sekelompok hama yang mencuri ternak mereka. Di sini yang disebut sebagai hama adalah sekelompok naga, yang mencuri domba, ikan, dan hewan ternak lainnya. Bagi para Viking, cara untuk tetap bertahan hidup adalah  melawan, dengan membunuh kelompok naga tersebut. Begitu pula dengan Stoick, ayah Hiccup, beliau memimpin penduduk untuk berjuang mempertahankan diri dengan melawan kelompok naga tersebut.

Dalam kawanan naga yang menyerang desa Berk, terdapat seekor naga yang paling ditakuti oleh para Viking, yang bernama Night Fury. Dia naga yang tak mudah terlihat, namun memiliki serangan yang paling mematikan. Hiccup, yang awalnya dilarang untuk ikut bertarung, nekat keluar untuk mencoba melawan naga. Dia menciptakan alat perangkap naga yang cukup canggih di masa itu. Hiccup mencoba untuk menangkap Night Fury, yang menjadi naga paling ditakuti Viking. Dan dia berhasil, namun tanpa diduganya, ada naga lain,  seekor Monstrous Nightmare, yang mengincarnya. Keadaan menjadi kacau dan tak terkendali, Hiccup yang ketakutan, lari dan bersembunyi, hingga akhirnya dia ditolong sang ayah. Akhirnya kelompok naga memenangkan pertarungan pada saat itu.

Ayahnya, Stoick, sangat marah dan kecewa pada Hiccup, dia pun memerintahkan Hiccup untuk masuk sekolah pembunuh naga yang ada di Berk. Hal ini, bagi Hiccup tidak sesuai dengan hati nuraninya, tapi dia tak berani dan tak bisa melawan ayahnya. Dengan terpaksa Hiccup mengikuti kelas berlatih melawan naga. Dibandingkan dengan teman-teman satu angkatannya (Astrid, Ruffnut, Tuffnut, FishLeg, dan Snotlout), Hiccup merupakan murid yang paling asal-asalan (cuek). Teman-teman Hiccup begitu antusias dalam mengikuti pelatihan, tapi tidak dengan Hiccup.

Berawal dari buku manual tentang naga yang dia baca, Hiccup mulai tertarik untuk mengenal naga lebih detail. Dimulai dengan Night Fury yang dulu berhasil dia jerat. Setelah sekian lama melakukan pendekatan, akhirnya Night Fury mau berteman dengannya dan menjadi tunggangannya. Hiccup memberi nama Toothless, karena kemampuan giginya yang unik. Berkat Toothless, Hiccup mampu menaklukkan naga-naga pada pelatihan tersebut. Dia mampu menaklukan Hideous Zippleback, naga dengan dua kepala; Gronckle, naga pemalas; Terrible Terror, naga yang terkecil; Deadly Nadder, naga yang memiliki warna biru terang dan kuning, serta duri yang jadi senjatanya, dan Monstrous Nightmare yang pernah membuatnya ketakutan. Hiccup melawan naga-naga tersebut dengan cara yang cerdik, dengan kasih sayang, bukan upaya pembuhunan.

How-To-Train-Your-Dragon-theDragons

Hiccup memiliki jiwa seorang peneliti bukan seorang petarung. Hal ini membuat Astrid merasa kemenangan Hiccup atas dirinya pada kompetisi melawan naga terasa tidak adil. Astrid tidak bisa menerima kekalahannya itu. Suatu hari, Astrid membuntuti Hiccup, dan dia berhasil menemui rahasia yang selama ini membuat Hiccup selalu menang darinya.

Hiccup akhirnya memaksa Astrid untuk ikut menaiki Toothless dan mulai menjelajah bersamanya. Awalnya Astrid menolak, tapi akhirnya terpaksa dia ikut, dan malah merasa senang. Hal yang tak terduga terjadi pada mereka. Toothless terjebak dalam kawanan naga yang terbang kembali ke pulau naga (sarang naga). Akhirnya mereka tahu, bahwa selama ini, naga-naga tersebut terpaksa mencuri ternak. Mereka tidak memakannya, tapi hasil curian tersebut diberikan kepada naga raksasa, penunggu pulau, Seadragonus Giganticus Maximus. Naga-naga tersebut tak punya pilihan, mereka harus membawakan makanan atau menjadi makanan. Melihat hal ini, Hiccup makin yakin bahwa naga-naga yang selama ini mencuri di desanya tak layak dibunuh.

Masalah pun terjadi, Ayahnya yang awalnya bangga Hiccup mampu menaklukan para naga, merasa kesal dan kecewa mengetahui Hiccup tidak mau membunuh naga. Sang ayah tak mau mendengarkan penjelasan Hiccup dan mengganggap Hiccup bukan anaknya lagi (bagian ini menyedihkan). Ayahnya menangkap Toothless, dan memaksanya untuk menunjukkan pulau naga. Hiccup, dibantu teman-temannya menunggangi naga yang ada di desa untuk menyusul ayah dan para Viking yang lain. Akhirnya Seadragonus Giganticus Maximus muncul dan memporak-porandakan pasukan Viking. Hiccup berusaha membebaskan Toothless, bersamanya dan teman-temannya, dia menghadapi Seadragonus Giganticus Maximus.

Pada “How to Train Your Dragon 1”, mengajarkan padaku bahwa perlu untuk mendengarkan pendapat orang lain (menjadi pendengar yang baik), jadilah seorang peneliti yang baik, dan percayalah pada diri sendiri, bahwa kita mampu. Meski film animasi, tapi keapikan ceritanya mampu membuatku menangis haru, atau bisa kubilang ceritanya keren. Penuh dengan pesan, meski film ini cukup “ringan” untuk ditonton.

How_to_Train_Your_Dragon_by_momarkey

“How to Train Your Dragon 2” yang baru dirilis tahun 2014 ini, melanjutkan cerita tentang Hiccup, para naga, dan ambisi seorang “Drago” dalam membalaskan dendamnya. Pada “How to Train Your Dragon 2”, Hiccup bertemu dengan ibunya (Valka) yang dikira telah meninggal dimakan naga. Hiccup juga bertemu dengan “Alfa”, pimpinan para naga yang mampu menghembuskan nafas es, kematian ayahnya, Stoick, disebabkan oleh Toothless dalam pengaruh hipnotis. Dan Drago, orang yang ambisius, yang ingin menguasai para naga, serta para manusia.

Film yang kedua ini mengajarkan tentang bagaimana caranya untuk mendapatkan kesetiaan, tanpa perlu melakukan kekerasan (menebarkan teror). Bagaimana menjadi berani mengambil risiko, dan bagaimana menjadi pemimpin yang baik. Film “How to Train Your Dragon”, baik yang pertama dan kedua, dua-duanya sarat akan pesan moral. Tontonan yang ringan, namun juga berbobot. Bagiku pribadi, tidak menyesal waktu yang telah kuhabiskan untuk menonton kedua film ini. Karena memang film ini layak untuk ditonton. Bagi yang belum nonton, bener-bener disarankan untuk bisa menonton keduanya. Recommended banget. Terimakasih telah mampir. (^_^)V

Yogyakarta, 11 September 2014
@MayHpt06

Iklan

One thought on “Sebuah Review “How to Train Your Dragon 1&2” by DreamWorks

    mayhpt06 responded:
    September 11, 2014 pukul 12:03 pm

    Akhirnya nulis lagi setelah sekian lama….hiks, terharu….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s