Berat Berakhir Benci

Posted on

Kupegang kepalaku, erat
Sakit, terasa begitu berat
Entah apa yang sedang bergantung
Aaaaah berat, seakan memanggul batu segunung

Ini mungkin karena hal itu, ya, mungkin karena itu
Itu yang membuat kepalaku berat, bagai tergantung segunung batu
Itu sungguh hal yang menyebalkan
Kenapa? Kenapa? padahal aku sudah berusaha

Aaaah, kini sesak nafasku
Berat kuhirup oksigen melewati lubang hidungku
Masalah Itu, mengapa membuatku begini tak berdaya
Meski kecurahkan segala daya dan upaya, tapi tetap ku terpedaya

Apakah ini salahku, kelambatanku, kecacatanku?
Aku sudah berusaha, sudah berupaya, semaksimal kubisa
Tapi mengapa, selalu Kalian menuntut lebih, lebih, dan lebih
Padahal aku berupaya setengah mati, hingga nafasku nyaris pergi meninggalkanku
Tapi kalian masih saja kurang terima, terlalu banyak menuntut

Mungkin aku harus menuruti suara yang samar-samar itu saja
Menurutinya untuk bekerja sekenanya saja, tanpa peduli lagi pendapat Kalian
Tapi aku tak bisa, ternyata aku tak bisa, dalam diriku selalu menuntutku untuk sempurna
Meski aku memang bukanlah orang yang sempurna

Aaaaaah, penat kurasa, jengah dan lelah menerpa
Tapi dalam diriku tak mau mengerti
Dan akupun tak mampu menuruti sang suara yang samar-samar terdengar
Egoku terlalu besar, gengsiku, harga diriku
Aaaaaaaaaah, aku muak dengan diriku……

Yogyakarta, 04 Februari 2015
@MayHpt06

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s