The Best Bebe I’ve Ever Had

Posted on Updated on

Hari ke-8
Yogyakarta, 06 Februari 2015

Kepada:
Bebe Sayang yang selalu kuhormati
di Peristirahatan Terakhir

Dear Bebe sayang,
Aku tahu Bebe gak bakalan bisa baca lagi surat yang kutulis ini, tapi aku tetap ingin menulisnya buat Bebe. Bebe telah pergi 2 tahun, 6 bulan, 17 hari yang lalu. Bebe, aku sedih Bebe pergi begitu cepat, tapi aku sadar memang inilah yang harus kita hadapi. Jadi aku hanya mencoba menerimanya. Bebe sayang,

terkadang aku rindu, ingin bertemu (meski dalam mimpi). Tapi itu adalah hal yang mustahil, jadi yang kulakukan hanya mengirimi Bebe doa, agar tempat peristirahatan terakhir Bebe lebih terang.
Bebe adalah Bapak terbaik yang pernah kumiliki, dan satu-satunya Bapakku. Aku tak pernah menyesal menjadi anak perempuan seorang Bebe yang baik hati dan penyayang (meski kadang Bebe tidak mengungkapkannya). Bebe, aku merasa beruntung dilahirkan di keluarga yang Bebe bina bersama Mamake, aku senang dan bangga menjadi anak perempuanmu. Bebe, aku berharap Bebe mau memaafkan segala kesalahanku hingga nafas terakhir Bebe. Maafkan aku Bebe.
Mei 2012, adalah kali pertama Mamake memberitahuku Bebe sakit. Aku yang masih bersedih karena kehilangan sumber penghasilanku kala itu, dan kabar dari Mamake membuatku makin sedih. Esok harinya aku nekat motoran ke Rumah Sakit tempat Bebe dirawat. Bebe yang kukenal adalah orang yang kuat, yang selalu menjaga kesehatan, tidak pernah merokok, dan meminum minuman yang tidak sehat. Tapi ternyata Bebe jatuh sakit. Kata mamake Bebe batuk berdahak dan sudah berlangsung sebulan lamanya, berbagai cara telah dicoba. Hingga akhirnya benjolan kecil itu muncul, dan itulah penyebab Bebe dibawa ke Rumah sakit kala itu.
Bebe dirawat di rumah sakit karena dokter ingin memastikan jenis benjolan apa yang tumbuh di dada atas Bebe, dokter melakukan Biopsi (operasi kecil pengambilan jaringan). Saat itu kukira benjolannya akan diangkat, ternyata hanya diambil sebagian untuk diteliti jenisnya apa. Dua minggu lamanya, kita menunggu hasil pembacaan uji laboratoriumnya. Bebe hanya ditemani Mamake kala itu, menemui dokter untuk tahu hasil uji laboratoriumnya. Dan dokter mengatakan hal yang mengagetkan kita semua. Dokter bilang, Bebe terkena kanker paru-paru stadium 4. Bagaimana bisa, Bebe yang bukan perokok terkena kanker paru-paru? Bagai disambar petir, Bebe dan Mamake lemas dan pasrah. Dokter menyarankan Bebe untuk dikemoterapi sebanyak enam kali, dan kita menyetujuinya.
Kemoterapi akhirnya Bebe jalani, lama proses kita menunggu untuk bisa dikemoterapi (karena keterbatasan kamar pasien). Bebe sabar dan tabah menjalaninya. Bebe pasrah dengan ketetapanNya untuk Bebe. Kami pun demikian, pasrah dan mencoba menghadapinya dengan sabar. Setelah kemoterapi pertama, banyak perubahan yang terjadi pada tubuh Bebe, tapi Bebe tetap berpikiran positif dan tabah menjalaninya. Beberapa minggu kemudian, Akhir Juli 2012, Bebe melakukan kemoterapi yang kedua. Setelah kita kembali ke rumah, kondisi tubuh Bebe makin melemah, dan Bebe terkena sariawan parah yang membuat Bebe gak bisa makan dengan baik. Membuatku sangat sedih, dan gak tahu apa yang harus kulakukan karena saat itu aku harus ke Jogja untuk wawancara kerja, aku naik motor kala itu.
Saat kembali ke rumah, aku diminta untuk cepat-cepat sampai ke rumah oleh sepupuku. Tapi aku gak kuat, kuputuskan beristirahat semalam di rumahnya di Sragen, besok pagi baru kuteruskan perjalanan pulang. Begitu sampai di rumah, ternyata Bebe tidak ada di rumah, Bebe ada di rumah sakit dan mau dirujuk ke Semarang. Segera ku packing baju Bebe dan bajuku, lalu kususul ke rumah sakit. Hari itu, tanggal 13 Agustus 2012 (25 Ramadhan 1433 H), kita sampai di Semarang sekitar siang menjelang sore. Banyak alat dipasang pada tubuh Bebe kala itu, kami semua pasrah terhadap apapun tindakan dokter. Karena kami yakin itu tindakan yang terbaik untuk menolong Bebe. Bebe, kami mengantarkan kepergian Bebe tepat pukul 23 sekian menit. Aku ada di samping Bebe, memegangi tangan Bebe, dan bagaikan orang tertidur, itulah kali terakhir aku melihat hembusan nafas terakhir Bebe. Bebe aku patut bersyukur dengan keadaanku saat itu, aku bersyukur aku nganggur, jadi aku bisa menemani dan menjaga Bebe saat di rumah sakit dan juga di rumah, di tiga bulan terakhir Bebe bersama kami. Bebe, maafkan aku, di saat terakhirmu aku masih belum mampu menjadi seorang anak perempuan yang dapat Bebe banggakan. Bebe, bagiku Bebe adalah Bapak terbaik, dan ter-ter lainnya. Aku sayaaaaaang Bebe. Kuharap doa-doa yang kupanjatkan untuk Bebe akan dikabulkan olehNya. Semoga Bebe selalu berada dalam tempat terindah di sisiNya. Kami semua sayang Bebe, lovelovelove Bebe.

Dari sulungmu
Maylia Rachmawati

Iklan

2 thoughts on “The Best Bebe I’ve Ever Had

    ikavuje said:
    Februari 6, 2015 pukul 9:34 pm

    dia pasti bangga banget sama kamu, semangat terus ya nulisnya :’D

      mayhpt06 responded:
      Februari 6, 2015 pukul 9:43 pm

      Aamiiin, makasih kak. Yosh, ayo semangat menulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s