Bertemu Mr. ‘Dracula’

Posted on Updated on

Pengalamanku bertemu Mr. ‘Dracula’ kumulai di tahun 2013, aku masih ingat pertama kali aku mendonorkan darahku tgl 23 Juni 2013 di kota kelahirankudi Rembang. Saat itu hari Minggu, setelah selesai mengikuti funbike, mataku tertuju pada bus berukuran sedang yg saat itu terparkir di halaman penyelenggara. Tertulis besar di sampinya PMI. Agak ragu dan takut kuberanikan diriku untuk mencoba bertemu Mr. ‘Dracula’. Maklum aku sebenarnya takut disuntik jarum, apalagi ukuran jarum PMI memang lebih besar dibanding jarum suntik obat. Hehehehe
Aku sebetulnya sangat memenuhi persyaratan untuk mendonorkan darahku karena berat badanku lebih dari cukup, dan usiaku yg masih kepala 2. Tapi karena memang aku overweight pembuluh darahku cukup sulit ditemukan. Hahahaha, Alhamdulillahnya, aku sukses donor darah untuk pertama kalinya, makasih petugas PMI Kec. Rembang. Donor keduaku kulakukan di kota yg saat ini kutinggali, kota Jogja. Yah seperti biasa pembuluh darahku cukup sulit ditemukan, tapi Alhamdulillah lancar terambil hingga donorku yg ke-5.
Donorku yg ke-6 rencanaku mau kulakukan tepat di hari Ibu, tanggal 22 Desember 2014. Karena saat itu aku tidak memiliki info tentang event yg diadakan PMI akhirnya kuputuskan untuk mencoba langsung saja ke PMI kota Jogja. Kami sempat salah jalan dan nyasar, ternyata memang salah mengambil jalur makanya kami agak lama sampai di PMI kota Jogja.
Setelah mengisi blanko dan juga melakukan sedikit tes, seperti tes HB darah dan juga diukur tekanan darahku, akhirnya aku dinyatakan layak. Mulai aku menuju tempat pengambilan darah. Setelah dicoba oleh beberapa petugas yang saat itu ada di PMI, mereka menyerah tidak jadi mengambil darahku karena kesulitan menemukan pembuluh darahku. Aku sebenarnya tak marah ataupun kesal, tapi ada omongan salah satu petugas PMI kota Jogja yang membuatku naik pitam. Beliau seorang wanita paruh baya, sepertinya sudah bercucu. Entah mengapa beliau tega mengatakan hal ini kepadaku yg telah dengan sukarela dan berbesar hati untuk donor saat ini. Aku memang telah melakukan donor darah sebanyak 5 kali, yg terakhir aku donor di waktu event Dies Natalis Fakultasku sekitar September tahun 2014, kalau tidak salah saat itu petugasnya dari PMI Sleman. Meski lama menunggu, Alhamdulillah saat donorku yg ke-5 dapat terpenuhi mengisi kantong 300cc. Tapi ibunya tadi yg petugas PMI kota Jogja, karena tidak bisa menemukan pembuluh darahku, beliau malah bilang begini,
Awalnya beliau tanya, “Terakhir donor di mana mb, pakai tangan kiri atau kanan, ini saya masih belum ketemu (pembuluhnya) juga?”
Kujawab, “Terakhir September lalu saat acara kampus, kalau tidak salah petugasnya dari PMI Sleman, dari pertama donor sampai sekarang, biasanya tangan kiri”.
Entah mengapa si Ibu tadi tiba-tiba mengatakan hal yg sangat menyebalkan.
“PMI Sleman, sepertinya masih menggunakan kantong kecil 250cc, aku jadi ragu kemarin kantongnya bisa terisi penuh apa tidak?” Kata ibu setengah baya tadi.
Dalam hatiku, waduh kurang ajar sekali, udah nyuruh orang nunggu, disuruh pindah ke sana pindah ke sini, yg pada akhirnya gak bisa ngambil darahku kok omongannya menyebalkan sekali. Aku yg saat itu sudah kesal, karena tadi sempat nyasar waktu mau ke sana, makin gampang tersulut emosi tapi masih dalam hati sie. Saat itu aku bertekad gak bakalan mau lagi susah-susah donor langsung ke PMI kota Jogja, mending nunggu event atau acara yg mengadakan donor darah.
Akhirnya, aku tetap bisa donor di kota kelahiranku, Rembang, saat itu aku lagi mudik karena mau mengurus sesuatu. Donor ke-6 ku kulakukan di Rembang dan saat itu pertama kalinya aku menggunakan tangan kanan, dan Subhanallah, gak nyampe 5 menit setelah pembuluhku ketemu, kantong 300cc terisi full. Sekarang terlihatkan yg kurang cakap siapa, aku yg overweight atau ibu separuh baya tadi? Toh kenyataannya petugas PMI Rembang ada yg bisa mengambil darahku.
Bulan ini, adalah bulan untukku kembali bertemu Mr. ‘Dracula’, dan kulihat ada event donor tanggal 15 Maret 2015, jadi kuputuskan untuk ikut (karena aku maunya donor di acara aja, gak mau ke PMI kota lagi).
Minggu agak siang, aku ke sana. Setelah mengisi formulir dan dicek persyaratannya, aku lolos dan menuju ruang pengambilan darah. Sayangnya, sepertinya saat itu aku sedang kurang beruntung. Aku bertemu dengan petugas yang sama, si ibu-ibu paruh baya. Dan lagi-lagi karena beliau tidak bisa menemukan pembuluhku, meski telah menusuk kedua tanganku, beliau angkat tangan dan menuliskan di formulirku kalau misleg. Seharusnya aku masih bisa mencoba untuk percobaan ketiga, tapi apa yg terjadi dia malah menuliskan itu di formulirku. Tahu mengapa aku tak bisa mencoba lagi, karena penutup jarumnya telah dibuang ibunya entah kemana, sehingga ditakutkan jarum sudah tidak steril. Itu salahku? Kenapa harus ditulis misleg padahal aku sudah mengatakan dari awal tak apa salah tusuk asal darahnya bisa keambil. Malah seperti itu kelakuannya.
Akhirnya, emosiku tak terbendung lagi, akhirnya aku pergi keluar dari tempat itu, sambil merobek-robek formulir yg tadi kupegang, kesaaaal banget (tapi jangan ditiru ya). Harusnya aku bisa lebih sabar, tapi sepertinya saat itu aku sedang lelah, belum lagi aku masih belum bisa menerima perkataan si ibu waktu lalu. Aku jadi benar-benar kesal dan memutuskan untuk tak pernah lagi akan donor jika penyelenggaranya dari PMI kota Jogja. Karena aku mau menghindari kemungkinan untuk bertemu dengan si ibu paruh baya itu tadi.
Bulan ini gagal sudah rencanaku untuk bertemu Mr. ‘Dracula’, mungkin aku harus menunggu di kesempatan lainnya. Karena kuyakin darahku akan sangat berguna bagi mereka yang membutuhkannya. 
Demikian sedikit sharingku, semoga gak ada yang tersinggung dengan tulisanku. Aku sejujurnya tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan atau menghina siapapun. Aku hanya mau berbagi, dan memberi masukan kalau diperbolehkan.
“Tak ada sesuatu di dunia ini yang benar-benar sesuai dengan keinginan kita, tidak ada sesuatu yang benar-benar mudah. Apakah salah jika memiliki pembuluh darah yang sulit ditemukan? Bagian mananya yang salah, bukankah semua itu ciptaan Sang Pencipta? Lalu mengapa harus menyalahkan orang yg berpembuluh darah yang susah ditemukan, padahal ternyata ada orang lain yg ternyata bisa menemukannya? Bagian mananya yang salah? Aku masih belum mengerti”.
Terima kasih telah mampir dan membaca tulisanku, semoga aku tetap konsisten untuk bertemu Mr. ‘Dracula’. Dan untuk yg memenuhi persyaratan sebagai pendonor, yuk donor darah secara rutin, karena selain membantu orang lain, kita juga membantu diri kita tetap sehat. Salam (^_^)/

Yogyakarta, 27 Maret 2015
@MayHpt06

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s