Event Khusus

#JumpalitanAgustus: Bosan

Posted on

#puisiabsurd

Bosanku dengan segala ini itu
Bosanku dengan obrolan tak perlu
Bosanku terus menerus mendengarkan keluhanmu
Aku lelah, aku penat, kepalaku serasa mau pecah
Setiap hari dimaki dengan kata halus penyayat hati
Sampai kapankah ini?
Aku pun tak paham apa maumu?

Rembang, 31 Agustus 2018

@mayhpt06

Iklan

#JumpalitanAgustus: Jangan Putus Asa!

Posted on

#puisi

Tak terhitung banyak peluh
Tak terhitung banyak keluh
Tak terhitung pula banyak tetes darah dan air mata

Banyak masa terlewati
Banyak tangis memecah keheningan malam
Namun tetap lirih, nyaris tak terdengar

Masalah silih berganti, seakan tak mau berhenti
Setiap saat, setiap waktu, seolah tak nak menunggu
Rajin menghampiri diri, yang kadang tak nak mengerti

Wahai jiwa yang mulai lelah, hati yang gundah
Jangan menyerah, jangan putus asa
Semua pasti ada penyelesaiannya

Selalu yakinkan diri, bahwa selalu ada jalan
Tetaplah semangat, jangan putus asa
Wahai jiwa pemberani, kamu kuat hadapi ini
Tetap semangat! Jangan putus asa!

Rembang, 29 Agustus 2018
@mayhpt06

#JumpalitanAgustus: Caisay

Posted on

#Cerpen

Hai, kenalkan, aku Caisay, aku benih caisim. Dewasaku sering ditambahkan di hidangan bakso atau mie ayam. Aku kaya akan provitamin A dan juga asam askorbat (vitamin C). Aku termasuk berumur pendek, dari tebar benih hingga panen pertama waktu yang dibutuhkan ± 40hari. Lalu jika aku dibiarkan hingga berumur 70hari, anak-anakku akan bisa dipanen untuk bisa ditanam lagi.
Kali ini majikanku, Wei Lang, ingin menanamku dengan cara hidroponik. Mendengar hidroponik, aku jadi ingat kalau cara itu menggunakan media air yang jumlahnya lebih banyak dibanding cara tanam yang biasa dengan tanah. Padahal meski aku suka air, aku gak bisa kebanyakan air, nanti aku bisa busuk, terus mati. Tapi Wei Lang, menyakinkanku, meski menggunakan lebih banyak air, bukan berarti akan menenggelamkanku. Fiuh, lega deh, meski belum tahu dengan detail nanti aku akan seperti apa. Kalau mendengar cerita dari saudara-saudaraku, ayah dan ibuku dulu ditanam Wei Lang, secara biasa di tanah, tapi mungkin karena tanah Wei Lang mulai menyempit, Wei Lang ingin menanamku dan saudaraku dengan hidroponik yang memang bisa diaplikasikan di lahan terbatas, seperti miliknya.

Wei Lang, menggunakan botol air mineral bekas ukuran besar. Botol itu diberi 2 lubang di bagian sisinya, mungkin diameter lubang itu 3-4cm. Sepertinya di lubang itu nanti, diberi net pot, pot kecil dengan bentuk seperti jaring tapi kaku, aku nanti diletakkan di net pot itu, sebelumnya ada busa di sana, dan aku nantinya akan disisipkan dalam busa itu. Di bawah busa, Wei Lang menyisipkan sehelai kain kecil, gunanya untuk membuatku mendapatkan cairan yang kubutuhkan untukku tumbuh nanti.
Setelah semua siap, Wei Lang mulai meletakkanku dan saudara-saudaraku di busa yang telah dibasahi, satu busa berisi 3 benih, aku bersama 2 saudaraku diletakkan dalam net pot paling ujung dekat tutup botol. Wei Lang telah selesai meletakkan kami di dalam busa kami masing-masing, dengan hati-hati, busa-busa kami diletakkan kembali ke dalam net pot-net pot kami.
Dua hingga tiga hari kemudian, calon akar dan calon daunku mulai keluar, Wei Lang menyebutnya tunas. Akarku tumbuh ke bawah mencari sumber makanan yang kubutuhkan, sedangkan calon daunku mulai muncul di permukaan busa, kulihat Wei Lang senang melihatku dan saudara-saudaraku muncul di permukaan busa. Setelah hari keenam daun sejatiku mulai muncul, Wei Lang pun menambahkan cairan lain di botol tempatku hidup. Iya, dia menambahkan cairan pupuk, pupuk khusus hidroponik, mengandung bahan makanan yang kuperlukan.
Hampir setiap hari Wei Lang menengokku dan saudara-saudaraku. Aku senang karena Wei Lang begitu perhatian pada kami. Dia selalu memastikan makanan kami terpenuhi, tak ada serangga yang mengganggu kami, dan selalu menjaga kami agar kami dapat tumbuh dengan baik.

Tiga puluh lima hari berlalu sejak pertama kali aku ditanam, aku dan saudara-saudaraku tumbuh dengan baik, dan kapanpun Wei Lang mau, kami siap dipanen, untuk selanjutnya membalas jasa Wei Lang yang telah susah payah merawat kami. Wei Lang, terima kasih karena memilih kami, menanam dan merawat kami, semoga kelak kami dapat bermanfaat buatmu. Wei Lang, terima kasih, kan kutunggu dengan sabar hari dimana kau kan datang untuk memetikku. Demikian kisahku, Caisay Si Benih Caisim, sampai saat ini aku masih menunggu Wei Lang memetikku, dan kuberharap siapapun nanti yang mendapatkanku mau menyantapku dengan senang, karena aku telah dirawat dengan baik oleh Wei Lang, dan aku mengandung pro vitamin A dan asam askorbat yang manusia butuhkan.

-fin-

Rembang, 23 Agustus 2018

@mayhpt06

#JumpalitanAgustus: Indonesia Bisa!

Posted on Updated on

#Puisi

Semalam telah tergelar dengan megah dan meriah
Sebuah pembukaan acara besar berskala internasional
Ini kali kedua Indonesia menjadi tuan rumah
Ya, Asian Games ada di Indonesia, Jakarta-Palembang
Kita patut berbangga dan harus ikut mendukungnya
Asian Games di Indonesia harus kita sukseskan
Pembukaan yang begitu megah, kebhinekaan Indonesia terlihat sangat wah
Tak terasa bulir bening mengalir di pipiku
Terharu, bangga, dan berharap Indonesia makin satu
Meski berbeda-beda, kita Indonesia, dan kita adalah satu bangsa, Indonesia
Inginku, seluruh rakyat Indonesia bersatu, turut menjaga dan mensukseskan acara besar berskala internasional ini
Indonesia Bisa! Indonesia Juara! Indonesia Kebanggaan Kita Bersama!
Stop saling caci maki antar kita, stop saling hina dan menyakiti
Kita adalah sama, kita adalah satu, kita Indonesia
Mari turut sukseskan Asian Games ke-18 di bumi Indonesia tercinta
Indonesia Bisa! MERDEKA! NKRI harga mati!

Rembang, 19 Agustus 2018

@mayhpt06

#JumpalitanAgustus: NKRI Harga Mati!

Posted on Updated on

#Puisi

Hari ini, tujuh puluh tiga tahun sudah usiamu
Tujuh puluh tiga tahun lalu, para pendiri bangsa memperjuangkan kemerdekaanmu
Kini kami disini hanya bisa memperingatinya
Dengan penuh harap agar kami mampu menjaganya
Dulu, memperjuangkanmu dengan darah dan air mata
Bersatu, bersama, tanpa memandang siapa dia
Kini, sebagian dari kami malah saling perang kata-kata
Tanpa sadar, sedikit mengancam apa yang dulu dicita-citakan
Wahai para pahlawan yang telah berjuang, maafkanlah kami
Yang hingga kini belum mampu mewujudkan cita-cita suci
Menjaga keutuhan dan persatuan NKRI
Beberapa dari kami malah saling mencaci
Sungguh ku malu, tapi ku telah berjanji pada diri sendiri
Apapun yang terjadi, NKRI harga Mati!

Rembang, 17 Agustus 2018

@mayhpt06

#JumpalitanAgustus: Apel Emas

Posted on

#DongengAbsurd

Suatu hari, Panpan dan Chikchik dua sahabat dari desa Syrup, mendapat tugas dari guru Wenwei untuk mencari Apel Emas di bukit Tiga Sekawan. Apel Emas merupakan salah satu bahan yang dibutuhkan gurunya untuk membuat obat penawar racun bagi Xicie, adik Chikchik yang beberapa waktu lalu salah memakan tanaman beracun koleksi guru Wenwei. Guru Wenwei berpesan pada mereka berdua agar kembali dalam waktu sepuluh hari.
Panpan dan Chikchik tiba di bukit Tiga Sekawan dalam waktu dua hari. Di sana mereka bertemu Li Yuang, petani apel di bukit Tiga Sekawan, mereka bertanya padanya, dimanakah mereka dapat mendapatkan Apel Emas. Li Yuang menjawab, pohon Apel Emas, merupakan pohon apel yang dikeramatkan di bukit Tiga Sekawan, jika mereka ingin mendapatkannya mereka harus menjawab dengan tepat ujian yang diberikan penjaga di tempat pohon Apel Emas itu ditanam. Demi adik Chikchik, mereka pun menyanggupinya. Li Yuang pun memberitahu mereka, mereka disuruh untuk ke puncak bukit, di sana ada bangunan yang melindungi pohon Apel Emas keramat, ada penjaga yang akan menguji mereka. Panpan dan Chikchik bergegas menuju ke sana. Hari sudah malam saat mereka tiba di lokasi yang dimaksud, penjaga meminta mereka untuk kembali esok pagi. Sedikit kecewa Panpan dan Chikchik menyanggupi perintah sang penjaga. Mereka mencari tempat bermalam di hutan dekat situ.
Keesokan paginya, Panpan dan Chikchik tiba kembali ke lokasi pohon Apel Emas, mereka disambut oleh penjaga pohon apel emas, dia sudah tahu apa maksud dan tujuan mereka. Untuk mendapatkan Apel Emas, Panpan dan Chikchik harus menjawab dengan tepat soal yang diujikan oleh penjaga. Soal yang diberikan penjaga: dari dua bejana, keduanya berisi air, bejana yang satu ada bulir air di sisi luar bejananya, yang satu tidak. Bejana yang mana yang diisi air dari semalam?
Panpan dan Chikchik berdiskusi, mereka lalu memilih bejana yang di sisi luarnya terdapat bulir airnya. Seingat mereka guru Wenwei pernah mengajari mereka, dan mereka yakin dengan jawaban mereka. Sang penjaga lalu memberi mereka sebuah keranjang yang ditutup kain hitam. Sang penjaga meminta mereka membuka penutup kainnya, dan mengatakan itu hasil jawaban mereka. Panpan dan Chikchik lalu membukanya, dan mata mereka berbinar, tiga buah Apel Emas ada di dalam keranjang itu. Panpan dan Chikchik berterima kasih pada penjaga dan berpamitan kembali ke desa Syrup.
Panpan dan Chikchik tiba di desa Syrup pada hari kedelapan dari mereka pergi. Apel Emas diterima guru Wenwei dengan senang, lalu segera mengolahnya untuk obat Xicie. Setelah meminum ramuan dengan apel emas buatan guru Wenwei, Xicie berangsur pulih. Setelah lima hari, Xicie akhirnya pulih seperti sedia kala. Panpan, Chikchik, dan Xicie bisa berkumpul bersama, berlatih kembali di bawah pengawasan guru Wenwei.

—-

Rembang, 13 Agustus 2018
Terima kasih,
@mayhpt06

#JumpalitanAgustus: Sepotong Roti

Posted on

#CerpenAbsurd

Alkisah dua kakak beradik sedang berada di meja makan, saat itu mereka berdua saja di rumah. Di hadapan mereka ada sepotong roti yang ditinggalkan oleh orang tua mereka yang kala itu harus pergi bekerja. Roti itu ukurannya kecil, jika dibagi dua, mereka mungkin merasa masih kurang. Lalu,….
Kakak: (melirik adiknya), “dik, kamu lapar?”
Adik: (melihat kakaknya), “ng.., ndak kak. Kakak lapar?”
Kakak: (melihat adiknya menelan ludah), “kakak juga tidak lapar”, (sembari menekan perut yang sedikit berbunyi).
Lalu hening…
Adik: “Kak, ibu kapan pulang?”
Kakak: “Sebentar lagi, kenapa?”
Adik: “Kak, kita main keluar yuk, sambil nunggu ibu pulang”, (menghampiri dan menggandeng lengan kakaknya).
Kakak: “Ayo”.
Mereka pun keluar meninggalkan meja makan dan sepotong roti di atasnya. Mereka berdua bermain di dekat rumah mereka, mencoba mengalihkan rasa lapar dengan hal lain, sembari menunggu ibu mereka datang.
Tak selang berapa lama, ibu mereka pun datang,
Adik: “Kak, itu ibu sudah pulang kak, lihat!”, (menarik-narik baju kakaknya).
Kakak: (menoleh ke arah ibu datang), “iya, yuk masuk ke rumah!”, (lalu menggandeng tangan sang adik).
Sesampainya di rumah, kedua kakak beradik itu menghampiri ibunya yang sedang duduk di samping meja makan.
Ibu: “Darimana saja kalian berdua?, bagus, gitu dong akur, main bareng”, (mata sang ibu berbinar melihat kedua anaknya akur main bersama).
Kakak: “Kami tak pernah berantem ibu, paling salah paham aja”, (melirik sang adik minta persetujuan).
Adik: “Iya bu, bener itu,” (berlari mendekati meja makan, dan melihat sepotong roti telah lenyap),
“Bu, ibu lihat roti di atas meja? Itu roti yang sengaja ibu tinggalkan buat kami kan?”
Ibu: “Iya, roti itu buat kalian berdua, sudah kalian habiskan ya? Tadi pas ibu ke sini, roti itu sudah tak ada”.
Adik: “Lah, kan belum jadi kami makan, kok udah gak ada”.
Kakak: “Lho, beneran gak ada ya, kan tadi kita tinggal main, belum jadi kita makan, yah!”.
Ibu: “Iya, ibu kemari sudah tidak ada roti itu, ibu kira sudah kalian makan. Sudah, sudah, jangan berwajah sedih begitu. Ini buat kalian”, (ibu menyodorkan 2 bungkus plastik berisi tape goreng dan pisang goreng).
Kakak dan Adik: “Terima kasih bu”, (menerima dengan senang).
Kakak: “Ibu, tapi kami benar-benar belum sempat makan roti itu, tadi roti itu terlihat kecil, jadi kami nunggu ibu pulang dulu, biar ibu bisa membaginya untuk kami”.
Ibu: “Tadi, pas kalian tinggal, kalian tutup dengan tudung saji?”
Adik: “Ah iya, lupa bu, tadi kami langsung pergi main begitu saja”.
Kakak: “Iya, kami lupa menutupinya”.
Ibu: “ya sudah, itu sudah ibu bawa gantinya, mungkin tadi diambil tikus atau kucing, karena kalian lupa menutupinya lagi”.
Kakak dan Adik: “Iya bu, terima kasih, ibu bawakan kami makanan, kami sayang ibu”, (berlari memeluk ibu).
Ibu: “Ibu juga sayang kalian, besok lagi kalau ninggal makanan di atas meja, jangan lupa ditutup dengan tudung saji ya!”.
Kakak dan Adik: “Iya, siap bu!”.

Kedua kakak beradik itupun menikmati dengan senang makanan yang dibawakan ibu, meski mereka masih penasaran, kemana sepotong roti itu pergi. Usut punya usut, ternyata sang ibulah yang memakan sepotong roti itu, karena saat pulang, roti itu masih ada di atas meja, sang ibu mengira kedua anaknya tak menyukainya. Ternyata, sang ibu salah kira, untung sang ibu membawa makanan lain untuk gantinya.
Berakhir sudah kisah sepotong roti, yang awalnya tidak jadi dimakan oleh kakak beradik, akhirnya berakhir di perut sang ibu. Bagian penting, jika ingin meninggalkan makanan di atas meja, sebaiknya ditutup dengan tudung saji, atau penutup lainnya. Terima kasih sudah mampir, dan membaca cerpen absurd karyaku, sampai bertemu di lain kesempatan.

Rembang, 11 Agustus 2018
Salam hangat dariku,
@mayhpt06